Novel karya Mochtar Lubis ini menceritakan kisah tujuh orang pencari damar yang diteror oleh seekor harimau. Novel ini sangat digemari dan banyak mendapat tanggapan para pengamat sastra. Novel ini juga berhasil mendapatkan hadiah Sastra Tingkat Nasional dari Yayasan Buku Utama Depdikbud. Kisah novel yang diterbitkan pertama kali leh Pustaka Jaya tahun 1975 ini adalah sebagai berikit.
Telah seminggu Haji Rakhmat (Pak Haji), Wak Katok, Sutan, Talib, Sanip, Buyung, Pak Balam berada di hutan mengumpulkan damar, tidak jauh dari pondok Wak Hitam. Mereka bertujuh disenangi dan dihormati orang-orang kampung karena mereka dikenal sebagai orang-orang sopan, mau bergaul, mau bergotong royong, dan taat dalam agama.
Wak Katok membawa senapan yang dia percayakan kepada Buyung untuk merawat dan mempergunakan. Karena mempunyai senapan, sambil mengumpulkan damar mereka sering berburu rusa dan babi. Babi ini sering masuk huma Wak Hitam. Karena itu pula terjalin perkenalan dengan Wak Hitam, bahkan mereka sering menginap di Pondok Wak Hitam ini.
Wak Hitam adalah seorang laki-laki yang telah berusia 70 tahun. Orangnya kurus, berkulit hitam, menyukai celana dan baju hitam. Ia senang tinggal berbulan-bulan di hutan atau di ladangnya bersama Siti Rubiah, istri keempatnya yang cantik dan masih muda belia. Wak Hitam pandai sihir dan memiliki ilmu gaib. Menurut Wak Katok dalam hal ilmu gaib Wak Hitam adalah gurunya. Wak Hitam senang mencari perawan muda untuk penyegar dirinya. Bila ia sakit dimintanya istrinya mendekap tubuhnya, agar darah muda istrinya mengalir ke tubuhnya dan ia akan sembuh kembali.
Telah seminggu Haji Rakhmat (Pak Haji), Wak Katok, Sutan, Talib, Sanip, Buyung, Pak Balam berada di hutan mengumpulkan damar, tidak jauh dari pondok Wak Hitam. Mereka bertujuh disenangi dan dihormati orang-orang kampung karena mereka dikenal sebagai orang-orang sopan, mau bergaul, mau bergotong royong, dan taat dalam agama.
Wak Katok membawa senapan yang dia percayakan kepada Buyung untuk merawat dan mempergunakan. Karena mempunyai senapan, sambil mengumpulkan damar mereka sering berburu rusa dan babi. Babi ini sering masuk huma Wak Hitam. Karena itu pula terjalin perkenalan dengan Wak Hitam, bahkan mereka sering menginap di Pondok Wak Hitam ini.
Wak Hitam adalah seorang laki-laki yang telah berusia 70 tahun. Orangnya kurus, berkulit hitam, menyukai celana dan baju hitam. Ia senang tinggal berbulan-bulan di hutan atau di ladangnya bersama Siti Rubiah, istri keempatnya yang cantik dan masih muda belia. Wak Hitam pandai sihir dan memiliki ilmu gaib. Menurut Wak Katok dalam hal ilmu gaib Wak Hitam adalah gurunya. Wak Hitam senang mencari perawan muda untuk penyegar dirinya. Bila ia sakit dimintanya istrinya mendekap tubuhnya, agar darah muda istrinya mengalir ke tubuhnya dan ia akan sembuh kembali.
Orang-orang percaya bahwa Wak Hitam senang tinggal di hutan karena ia memelihara jin, setan, iblis, dan harimau jadi-jadian Ada pula yang mengatakan bahwa Wak Hitam mempunyai anak buah bekas pemberontak yang menjadi perampok dan penyamun yang tinggal di hutan. Di samping itu ada pula yang mengatakan bahwa Wak Hitam mempunyai tambang yang dirahasiakannya di dekat ladangnya.
Mereka bertujuh sampai di pondok Wak Hitam sebelum malam tiba, Dengan gembira mereka menyantap masakan Rubiah karena selama di hutan mereka belum pemah menikmati masakan yang enak. Mereka pun tertarik akan keindahan tubuh Rubiah. Buyung anggota rombongan termuda dan satu-satunya yang masih bujangan, tergila-gila akan kecantikan Rubiah. Dalam hatinya ia membandingkan kelebihan Rubiah dari Zaitun tunangannya di kampung. Sanip, Talip, dan Wak Katok sering tidak dapat menahan diri jika duduk berdekatan dengan Siti Rubiah.
Pada suatu hari mereka melihat hal-hal yang aneh ketika Wak Hitam sakit. Banyak orang yang berpakaian serba hitam datang ke Pondok dan menyerahkan bungkusan rahasia kepada Wak Hitam. Mereka juga menjumpai seorang tukang cerita dan juru ramal di pondok tersebut. Berbagai ramalan disampaikan peramal itu tentang jalan hidup Buyung, Sutan, Talib, dan Sanip.